Berhenti jadi Pegawai Karna Merawat Orang Tua, Pria ini Sekarang Berpenghasilan Ratusan Juta

shares |

Loading...

Memilih jalan hidup perlu pemikiran matang, melibatkan perasaan dan tentunya restu orangtua. Bagi Taufik Hidayat, CEO Villa Mushroom Agrifarm, semua yang dirasa indah di depan mata bukan bukan tujuan semata

Pemuda asal Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat tersebut memilih berhenti bekerja saat bergaji sekitar Rp12 juta per bulan, kemudian memilih jadi petani di kampung halamannya. Padahal perusahaan otomotif tempat dia bekerja paling diicar para pencari kerja di seluruh Indonesia.

"Saya bekerja sekitar 10 bulan di perusahaan otomotif, bagian maintenance. Tapi terakhir saya sempat galau," kata Taufik saat berbincang dengan Money.id beberapa waktu lalu di kawasan Plaza Senayan, Jakarta Selatan.

Pilihan berhenti bekerja tersebut bukan tanpa alasan. Saat dia bekerja di sebuah perusahaan otomotif besar di kawasan Sunter, Jakarta Utara itu tiba-tiba ibunya kerap sakit-sakitan sedangkan ayah Taufik masih harus bekerja sebagai kuli di beberapa proyek bangunan di luar kota.

Kemudian ditambah kedua kakaknya yang berada di kampung belum bisa hidup mapan dan memberikan sesuatu yang lebih dari segi harta untuk orangtua. Dua kakak Taufik bekerja sebagai tukang ojek di kampungnya. Saat itu beban berat ada di pundak Taufik.

Arif mengaku, dia bukan dari kalangan berada. Kata dia, bila dilihat dari segi ekonomi, keluarga Arif bisa disebut menengah ke bawah. Namun pemuda bertampang mirip artis Korea Selatan tersebut termasuk salah satu orang yang beruntung di kampungnya, karena mendapatkan beasiswa dari sebuah perusahaan listrik geotermal.

Berkat beasiswa tersebut, akhirnya Arif bisa mengenyam pendidikan hingga bangku kuliah. Kemudian bisa bekerja di perusahaan besar dengan gaji yang terbilang besar untuk fresh graduate.

"Saat kerja saya bisa mengirim uang kepada orangtua, kakak dan lainnya. Tapi setelah jalan beberapa bulan agak dilema. Saya fikir, memang sanggup kirim uang tiap bulan, tapi akan sampai kapan," jelas Arif.

Saat pulang kampung, Arif mengaku tidak tega melihat keadaan keluarga. Meski dia hidup enak di Jakarta dan bisa mengirim uang setiap bulan ke orangtua namun hatinya berontak karena tidak bisa membahagiakan seratus persen.

"Saya bisa makan enak sama temen, tapi orang di rumah masih gitu-gitu saja, kakak masih ngojek, bapak masih tukang bangunan ke sana kemari. Dari sana saya berfikir saya harus keluar, harus bikin satu usaha, untuk mengubah keadaan keluarga," tegas Arif.

Ketika itu pula Arif memutuskan untuk berhenti bekerja dan beralih menjadi pengusaha. Namun awalnya dia tidak tahu bisnis apa yang mau dijalankan. Setelah berfikir lama, kemudian teringat salah satu kawan kuliahya yang berwirausaha budidaya jamur.

"Lalu saya main ke Cisarua, saya pelajari karateristiknya ternyata cocok dengan suhu di Pangalengan," ujar Taufik. Jamur sendiri dapat tumbuh subur dengan suhu 18 hingga 25 derajat celcius dan kelembaban 80 hingga 90 persen.

Taufik mengaku, sebenarnya bidang sedang digelutinya saat ini tidak ada hubungan dengan sekolah, semuanya dipelajari dari internet.

Pinjam uang

Saat memutuskan untuk behenti bekerja di Jakarta dan beralih jadi petani jamur, masalah pertama muncul, Arif tidak memiliki uang banyak untuk modal. Saat itu uang tabungannya hanya Rp10 juta. Padahal modal dibutuhkan untuk memulai usaha budidaya jamur itu mencapai ratusan juta rupiah. "Tahu sendiri orang bekerja susah menyimpan uang," ucapnya.

Setelah memutar otak, akhirnya Taufik mendapatkan ide untuk menghubungi rekan-rekannya ketika kuliah. Dia meminta supaya menjadi investor dan memberikan pinjaman untuk modal usaha tersebut. Dalam dua minggu langsung terkumpul Rp100 juta untuk modal.

"Kalau yang pinjaman saya kembalikan. Kemudian yang investasi sistemnya bagi hasil. 40 persen untuk investor sisanya untuk saya," terangnya.

Modal tersebut digunakan untuk sewa lahan membuat kumbung (tempat budidaya jamur) dan membeli berbagai keperluan lain termasuk bibit. "Padalah saya saat itu belum tahu apa-apa mengenai jamur, tapi saya langsung memberanikan diri eksekusi yang besar," katanya.

Modal sudah terkumpul ternyata menjalankan bisnis yang Taufik pilih tidak mudah. Dia dan dua kakaknya harus 'berdarah-darah' bekerja keras mulai dari proses produksi hingga menjual sendiri ke pasar. Saat itu dia belum memiliki mobil untuk mengangkut jamur ke pasar.

"Awalnya pakai motor ke pasar, ada bahasinya menggunakan plastik disimpan di belakang untuk bawa jamur. Saat itu menggunakan dua motor bersama kakak saya," jelasnya.

Rutinitas itu dilakukan selama satu tahun oleh Taufik bersama kakaknya yang juga menjalani profesi sampingan sebagai tukang ojek. Setiap harinya dia dan kakaknya membawa dua hingga tiga kuintal jamur ke pasar.

Namun, berkat ketekunan dan kerja keras setiap hari akhirnya Taufik bisa membeli sebuah mobil pickup dari hasil wirausaha jamur. Mobil tersebut dia beli seharga Rp130 juta, murni dari hasil bisnis yang dijalaninya itu.

Dari penjualan dua hingga tiga kuintal jamur per hari itu, Taufik bisa meraup omzet sebesar Rp2 juta hingga tiga juta per hari. "Kalau dijual ke pasar harga jamur sekitar Rp10 ribu per kilogram. Kalau ke restoran Rp15 ribu per kilogram," ujarnya.

Yang membedakan adalah jamur yang dijual, apabila menjual ke restoran Taufik sangat selektif sekali. Jamur dikirim adalah yang sudah dipilih sedemikian rupa sehingga harganya lebih tinggi.

Dengan omzet sebesar itu penghasilan Taufik naik hampir 10 kali lipat. Saat bekerja di perusahaan otomotif gaji Arif sekitar Rp12 juta per bulan. "Dulu saya bekerja di bidang maintenance gajinya sekitar Rp10 juta hingga Rp12 juta per bulan," imbuhnya. (money.id)
Loading...

MENARIK LAINNYA