Jejak Israel dalam Genosida Muslim Rohingya di Myanmar

shares |

Loading...

Ikon Myanmar Aung San Suu Kyi adalah salah satu wanita terkenal di dunia, pemegang hadiah Nobel Perdamaian, dan pernah dijuluki sebagai "Mandela Asia" karena reputasinya di bidang hak-hak asasi manusia. Namun di balik semua itu, sikapnya yang terus menerus tidak memberi cukup perhatian terhadap masalah & penderitaan warga minoritas Muslim Rohingya di negara bekas Birma itu patut dipertanyakan…seberapa besar sebenarnya integritas dan empati Suu Kyi?

Kunjungan Ben Gurion ke Birma

Kita tidak bisa melupakan catatan sejarah bahwa pendiri negara ilegal Israel, sekaligus Perdana Menteri pertama Israel, David Ben-Gurion, di masanya pernah menjalin hubungan erat dengan Birma. Pada bulan Desember 1961, Ben-Gurion disambut dengan karpet merah saat berkunjung ke negara itu. Dalam sebuah konferensi pers sesaat sebelum terbang kembali ke Israel, ia mengatakan, "Hari ini saya akan pulang ke sebuah negara baru (Israel), negara yang tidak asing lagi. (Dan) di seluruh Asia, tidak ada negara yang lebih bersahabat dengan Israel selain Birma. Israel dan Birma adalah dua negara tua dengan sejarah masa lalu, yang memperbarui kembali kemerdekannya pada tahun 1948."

Menurut Ben-Gurion, "Israel dan Birma adalah negara demokrasi, dan keduanya menganut prinsip yang sama dalam kebijakan luar negeri, yaitu mempromosikan hubungan persahabatan dan saling membantu dengan seluruh negara yang mencintai perdamaian terlepas rezim negara masing-masing, dan tanpa mengganggu kepentingan negara-negara manapun; serta loyal terhadap kerja sama internasional yang sesuai dengan prinsip-prinsip PBB."

Tentu saja kunjungan kenegaraan oleh pemimpin-pemimpin Israel tidak terhenti pada Ben-Gurion saja. Berikutnya ada Shimon Peres, Moshe Dayan, Yitzhak Ben-Zvi, dan Golda Meir juga melakukan kunjungan ke Birma bersama sejumlah politisi lainnya. Selain itu, PM saat ini Benjamin Netanyahu pernah menerima dengan hangat kunjungan pemimpin Myanmar di Tel Aviv.

Ratakan Desa-Desa, Hilangkan Kebudayaannya

Dengan meratakan lebih dari 530 kota dan desa-desa Arab sejak tahun 1948, lalu mengontrol gerakan rakyat Palestina yang hidup di wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza, menghapus kebudayaan Palestina, termasuk soal makanan dan gaya hidup sehari-hari, banyak pihak mengatakan bahwa Israel terlibat dalam sebuah genosida pelan-pelan terhadap bangsa Palestina. Sekarang kita bisa berfikir dan melihat bahwa mereka (Israel) telah menyerahkan semacam manual atau blue-print genosida tersebut kepada Aung San Suu Kyi dan Myanmar.

Penganiayaan bermotif agama dilakukan bersamaan dengan penyitaan tanah secara ilegal, buruh paksa, pungutan pajak sewenang-wenang, penghancuran rumah-rumah, dan pelarangan/pembatasan dalam masalah perkawinan, pekerjaan, dan pendidikan. Semua itu merupakan bentuk penindasan sistemik oleh negara dan tirani, persis seperti yang dialami oleh orang-orang Palestina di bawah penjajahan Israel. Dan kini, cara-cara itu telah diadopsi oleh Myanmar untuk menindas warga Muslim Rohingya.

Copy-Paste Kebijakan Golda Meir

Jika Suu Kyi mengambil pelajaran genosida dari Israel, maka Konselor Negara yang sekaligus juga Menteri Luar Negeri itu sesungguhnya telah berhasil mempelajarinya dengan baik. Ia sekarang telah mendeklarasikan bahwa pemerintahannya tidak akan menggunakan istilah "Rohingya" bagi komunitas Muslim di negara bagian Rakhine. Ini hanyalah pengulangan terhadap apa yang pernah dilakukan oleh mantan PM Israel Golda Meir yang telah membuat deklarasi yang sama bahwa "tidak ada itu yang dinamakan dengan orang-orang Palestina."

sumber
Loading...

MENARIK LAINNYA